CONTOH IKHTISAR BAHASA INDONESIA
KONSPIRASI ALAM SEMESTA
Penulis : Fiersa Besari
Penerbit : PT. Media Kita
Tahun Pertama Terbit : 2017
Tebal : 253 halaman
ISBN : 978-979-794-535-0
Penerbit : PT. Media Kita
Tahun Pertama Terbit : 2017
Tebal : 253 halaman
ISBN : 978-979-794-535-0
Buku
ini menceritakan kisah Juang Astrajingga, pemuda tangguh yang dicap anak eks-tapol
oleh masyarakat karena pamannya menjadi anggota Lekra pada masa orde baru.
Juang adalah sarjana lulusan Tehnik Informatika yang lebih memilih berkelana ke
wilayah Sumatera Barat daripada mematuhi perintah ayahnya untuk menjadi manusia
normal menurut pandangan sang ayah yang dianggap sangat membosankan.
Juang memilih untuk berprofesi sebagai penulis, baik melalui reportase ataupun blog. Setahun kemudian,
sepulangnya ia dari perbatasan Filipina, Juang merilis buku pertamanya yang
berjudul “Sejuta Lara dibalik Pesona”. Meskipun penjualan buku tersebut tidak
laris manis, tetapi tetap menjadi prestasi tersendiri baginya.
Juang Astrajingga, telah jatuh cinta pada seorang gadis
sederhana yang kritis pemikirannya, bernama Ana Tidae. Pertemuan keduanya
dimulai saat alam tak sengaja mempertemukan mereka berdua disebuah toko buku
kecil dan tanpa diduga Juang mendapat tugas untuk mewawancarai anak mendiang
Shinta Aksara yang tak lain adalah Ana Tidae.
Setelah menanti begitu lama, impian Juang untuk
menjelajah sejarah Indonesia di alam Papua akhirnya disetujui oleh pihak LSM
Jakarta. Ia berangkat meninggalkan kekasih hatinya, Ana Tidae. Ana merasa
seketika dunianya menjelma menjadi musim dingin dan ia akan menanti Juang
kembali untuk membawakan musim semi.
Sekian lama berkelana, tiba akhirnya Juang pulang kembali
ke Bandung dan melanjutkan perjalanannya ke Jakarta bersama Ana karena sang ibu
jatuh sakit dan menginap disebuah rumah sakit. Tiba masanya, Juang
memperkenalkan Ana pada keluarganya. Sederhana namun cepat terlebur dalam
suansana, ibu Juang yang tak pernah memiliki anak perempuan dan Ana yang telah
lama kehilangan ibunya kini telah menyatu. Namun, tak berkisar lama, ibu Juang
menghembuskan nafas terakhirnya diatas tempat tidur rumah sakit.
Setahun berlalu, Juang memberanikan diri untuk melamar
Ana diatas panggung konser Guntur Satria yang diidolakan Ana. Beberapa bulan
kemudian, akad nikah dan resepsi pernikahan Juang Astrajingga dan Ana Tidae
diperlangsungkan. Juang telah menyiapkan rumah kayu bercat putih yang berada
dihamparan luas sabana, seperti yang telah diimpikan Ana kala itu.
Selang beberapa hari setelah pernikahannya, Juang sudah
tak mampu menahan diri untuk tidak berangkat menuju Dataran Tinggi Karo, letak
Gunung Sinabung untuk menjadi relawan disana. Ternyata hari itu, menjadi hari
terakhir Ana dan Juang bertatap mata. Ana terkejut mendengar telpon dari Bang
Dude, sahabat Juang bahwa jenazah Juang akan dibawa ke Bandung besok siang.
Beberapa bulan telah berlalu, Ana melahirkan bayi perempuan
cantik buah hatinya dengan Juang. Bayi tersebut ia beri nama Ilya Astrajingga
yang akan selalu membangkitkan kenangan indah Ana bersama dengan sang
petualang, Juang Astrajingga.

Komentar