MAKALAH SEJARAH PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT Yang
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puji syukur atas
kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayah-Nya sehingga
kami dapat menyelesaikan Makalah Sejarah Peminatan yang berjudul “Sejarah
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia”.
Makalah Sejarah Peminatan ini telah
kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga
dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu, kami menyampaikan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam membuat tugas makalah
ini.
Terlepas dari semua itu, kami
menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat
maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, kami menerima segala saran dan kritik
dari pembaca agar kami mampu memperbaiki tugas makalah selanjutnya.
Akhir kata, kami berharap semoga
Makalah Sejarah Peminatan yang berjudul “Sejarah Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia” ini
dapat memberikan manfaat serta inspirasi kepada pembaca.
Kertosono,
02 September 2018
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR..................................................................................................1
DAFTAR
ISI.................................................................................................................2
BAB 1 :
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah.............................................................................3
B. Rumusan
Masalah.......................................................................................3
C. Tujuan
Penulisan.........................................................................................3
BAB 2 :
PEMBAHASAN
A. Persiapan
Menjelang
Proklamasi................................................................4
B. Penyusunan
Teks Proklamasi.....................................................................6
C. Detik
– Detik
Proklamasi............................................................................7
D. Penyebaran
Proklamasi Kemerdekaan........................................................8
BAB 3 : PENUTUP
A. Kesimpulan...............................................................................................10
B. Saran.........................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................11
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Proklamasi adalah sebuah
pemberitahuan resmi kepada seluruh rakyat. Pemberitahuan kemerdekaan Indonesia
pada 17 Agustus 1945, menandakan suatu ketetapan kebebasan bagi seluruh rakyat
Indonesia dari belenggu penjajahan proklamasi kemerdekaan Indonesia menunjukkan
keberanian dan sikap bangsa Indonesia menunjukan keberanian dan sikap bangsa
Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri.
Awalnya terdapat perbedaan sikap antara golongan tua dan gologan muda. Golongan tua tidak mempersoalkan jika kemerdekaan adalah pemberian Jepang, lain halnya dengan golongan muda yang mengagungkan kemerdekaan Indonesia sebagai hasil perjuangan sendiri.
Perbedaan itu membuat para perjuangan nasionalis Indonesia bekerja keras. Proklamasi bukan berarti perjuangan selesai, masih ada perjuangan yang lebih berat lagi, menanti yaitu perjuangan mempertahankan kemerdekaan itu sendiri.
Awalnya terdapat perbedaan sikap antara golongan tua dan gologan muda. Golongan tua tidak mempersoalkan jika kemerdekaan adalah pemberian Jepang, lain halnya dengan golongan muda yang mengagungkan kemerdekaan Indonesia sebagai hasil perjuangan sendiri.
Perbedaan itu membuat para perjuangan nasionalis Indonesia bekerja keras. Proklamasi bukan berarti perjuangan selesai, masih ada perjuangan yang lebih berat lagi, menanti yaitu perjuangan mempertahankan kemerdekaan itu sendiri.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
persiapan proklamasi kemerdekaan?
2. Bagaimana peristiwa Rengasdengklok?
3. Bagaimana rumusan teks proklamasi?
4. Bagaimana penyebaran berita proklamasi kemerdekaan Indonesia?
C.
Tujuan Penulisan
1. Untuk memenuhi tugas sejarah
peminatan.
2. Mengetahui lebih dalam tentang
perjuangan bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia
3. Mampu menghargai perjuangan para
pahlawan.
4. Mengetahui jasa-jasa pahlawan dalam
usaha memerdekakan Indonesia.
5. Menerapkan semangat juang para
pahlawan dalam rangka memperingati kemerdekaan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Persiapan Menjelang Proklamasi
Pada tanggal
1 Maret 1945, kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik semakin jelas, sehingga Jenderal
Kumakici Herada mengumumkan dibentuknya suatu badan khusus yang bertugas
menyelidiki usaha - usaha persiapan kemerdekaan Indonesia yang bernama Dokuritzu
Zyunbi Coosakai atau Badan Penyelidikan Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (BPUPKI).
Didirikannya BPUPKI bertujuan untuk mempelajari dan mempersiapkan hal-hal penting mengenai masalah tata pemerintaan Indonesia merdeka. Badan ini beranggota 60 orang tokoh Bangsa Indonesia dan 7 orang Bangsa Jepang, Bangsa Jepang hanya bertugas sebagai saksi. K.R.T. Radjiman Widyodiningrat (seorang nasionalis tua) ditunjuk sebagai ketua. Sedangkan wakil ketua adalah R. Surono dan seorang lagi dari pihak Jepang.
Pada tanggal 29 Mei 1945, BPUPKI diresmikan yang dihadiri oleh seluruh anggota dan dua orang pambesar militer Jepang, yaitu Panglima Tentara Wilayah Ketujuh Jenderal Izajaki yang menguasai Jawa Serta Panglima. Tentara Wilayah Keenambelas Jenderal Yaicio Nagano. Sidang itu berlangsung dari tanggal 29 Mei sampai dengan 1 juni 1945.
Dalam sidang ini dibicarakan dasar filsafat Negara Indonesia merdeka, kemudian dikenal dengan Pancasila. Tokoh-tokoh yang mengusulkan dasar negara itu diantaranya Mr. Muh. Yamin, Prof. Dr. Soepomo, dan Soekarno. Soekarno mengajukan lima rancangan dasar Negara Indonesia merdeka yang diberi nama Pancasila. Kelima rancangan dasar yang diajukan tersebut adalah :
a. Kebangsaan Indonesia.
b. Internasionalisme atau peri kemanusiaan.
c. Mufakat atau demokrasi.
d. Kesejahteraan sosial.
e. Ketuhanan Yang Maha Esa.
b. Pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia
Setelah persidangan pertama selesai, BPUPKI menunda persidangan hingga bulan juli 1945. Namun pada tanggal 22 juni 1945, sembilan orang anggota, yaitu:
a. Soekarno
b. Mr.Muh. Yamin
c. Mr.A.A. Maramis
d. Wachid Hasyim
e. Abikusno Tjokrosujoso
f. Moh. Hatta
g. Mr. Ahmad Soebardjo
h. Abduljahar Muzakar
i. H. Agus Salim
Membentuk panitia sembilan atau lebih dikenal dengan sebutan Panitia Kecil. Panitia kecil ini menghasilkan dokumen yang berisi asas dan tujuan Negara Indonesia merdeka.Dokumen ini dikenal sebagai Piagam Jakarta. Adapun isi dari Piagam Jakarta, adalah:
Didirikannya BPUPKI bertujuan untuk mempelajari dan mempersiapkan hal-hal penting mengenai masalah tata pemerintaan Indonesia merdeka. Badan ini beranggota 60 orang tokoh Bangsa Indonesia dan 7 orang Bangsa Jepang, Bangsa Jepang hanya bertugas sebagai saksi. K.R.T. Radjiman Widyodiningrat (seorang nasionalis tua) ditunjuk sebagai ketua. Sedangkan wakil ketua adalah R. Surono dan seorang lagi dari pihak Jepang.
Pada tanggal 29 Mei 1945, BPUPKI diresmikan yang dihadiri oleh seluruh anggota dan dua orang pambesar militer Jepang, yaitu Panglima Tentara Wilayah Ketujuh Jenderal Izajaki yang menguasai Jawa Serta Panglima. Tentara Wilayah Keenambelas Jenderal Yaicio Nagano. Sidang itu berlangsung dari tanggal 29 Mei sampai dengan 1 juni 1945.
Dalam sidang ini dibicarakan dasar filsafat Negara Indonesia merdeka, kemudian dikenal dengan Pancasila. Tokoh-tokoh yang mengusulkan dasar negara itu diantaranya Mr. Muh. Yamin, Prof. Dr. Soepomo, dan Soekarno. Soekarno mengajukan lima rancangan dasar Negara Indonesia merdeka yang diberi nama Pancasila. Kelima rancangan dasar yang diajukan tersebut adalah :
a. Kebangsaan Indonesia.
b. Internasionalisme atau peri kemanusiaan.
c. Mufakat atau demokrasi.
d. Kesejahteraan sosial.
e. Ketuhanan Yang Maha Esa.
b. Pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia
Setelah persidangan pertama selesai, BPUPKI menunda persidangan hingga bulan juli 1945. Namun pada tanggal 22 juni 1945, sembilan orang anggota, yaitu:
a. Soekarno
b. Mr.Muh. Yamin
c. Mr.A.A. Maramis
d. Wachid Hasyim
e. Abikusno Tjokrosujoso
f. Moh. Hatta
g. Mr. Ahmad Soebardjo
h. Abduljahar Muzakar
i. H. Agus Salim
Membentuk panitia sembilan atau lebih dikenal dengan sebutan Panitia Kecil. Panitia kecil ini menghasilkan dokumen yang berisi asas dan tujuan Negara Indonesia merdeka.Dokumen ini dikenal sebagai Piagam Jakarta. Adapun isi dari Piagam Jakarta, adalah:
1. Ketuhanan dengan berkewajiban
menjalankan syariat- syariat Islam bagi para pemeluknya.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
Piagam
Jakarta kemudian ditetapkan menjadi mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, setelah
diadakannya perubahan pada sila pertama, yaitu “Ketuhanan dengan berkewajiban
menjalankan syariat-syariat Islam bagi para pemeluknya” menjadi “Ketuhanan Yang
Maha Esa”.
Setelah panitia sembilan menetapkan mukadimah UUD 1945, mereka mengajukan pembentukan PPKI sebagai pengganti BPUPKI. Pada tanggal 7 Agustus 1945, Jenderal Terauchi menyetujui pembentukan Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau
Dokuritzu Zyunbi Inkai yang mengganti BPUPKI.
Pada tanggal 9 agustus 1945, yaitu Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Dr. Ratjiman Widyodiningrat berangkat ke Saigon, Dalat (Vietnam Selatan) untuk memenuhi panggilan Panglima Mandala Asia Tenggara Marsekal Terauchi. Ketiga tokoh bangsa Indonesia itu dipanggil untuk membicarakan tentang kemerdekaan Indonesia yang pelaksanaannya akan dilakukan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau PPKI.
Dalam sidang PPKI berhasil menyusun landasan dasar proklamasi kemerdekaan Indonesia. Landasan itu adalah landasan dasar nasional dan landasan dasar internasional. Landasan tersebut tercermin di dalam Pembukaan UUD 1945, sekaligus merupakan Dekralasi Kemerdekaan Indonesia.
Setelah panitia sembilan menetapkan mukadimah UUD 1945, mereka mengajukan pembentukan PPKI sebagai pengganti BPUPKI. Pada tanggal 7 Agustus 1945, Jenderal Terauchi menyetujui pembentukan Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau
Dokuritzu Zyunbi Inkai yang mengganti BPUPKI.
Pada tanggal 9 agustus 1945, yaitu Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Dr. Ratjiman Widyodiningrat berangkat ke Saigon, Dalat (Vietnam Selatan) untuk memenuhi panggilan Panglima Mandala Asia Tenggara Marsekal Terauchi. Ketiga tokoh bangsa Indonesia itu dipanggil untuk membicarakan tentang kemerdekaan Indonesia yang pelaksanaannya akan dilakukan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau PPKI.
Dalam sidang PPKI berhasil menyusun landasan dasar proklamasi kemerdekaan Indonesia. Landasan itu adalah landasan dasar nasional dan landasan dasar internasional. Landasan tersebut tercermin di dalam Pembukaan UUD 1945, sekaligus merupakan Dekralasi Kemerdekaan Indonesia.
Chaerul Saleh, Sutan Sjahrir, Darwis dan
Wikana telah
mengetahui menyerahnya Jepang tanpa syarat kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945, mereka mengetahui kekalahan Jepang
melalui siaran rasio BBC di Bandung. Setelah
mendengar berita Jepang menyerah kepada sekutu, golongan muda mendesak golongan
tua untuk secepatnya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun tokoh
golongan tua seperti Ir. Soekarno dan Drs. M. Hatta tidak mau
terburu-buru mereka tetap menginginkan proklamasi dilaksanakan sesuai mekanisme
PPKI. Alasannya kekuasaan Jepang di Indonesia belum diambil alih hal tersebut
membuat mereka khawatir akan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi.
Pada hari
yang sama Sokarno dan Moh. Hatta kembali ke tanah air setelah memenuhi
panggilan Panglima Mandala Asia Tenggara Marsekl Terauchi di Saigon, Vietnam.
Golongan tua yang dipimpin oleh Soekarno dan Hatta lebih memilih melihat
perkembangan selanjutnya, karena proklamasi kemerdekaan harus terorganisasi dan
melalui rapat PPKI tanggal 18 Agustus 1945 seperti yang telah disepakati dalam
pertemuan di Saigon. Pendapat itu tidak ditanggapi oleh golongan muda. Mereka
tetap pada prinsipnya, sehingga terjadi perbedaan paham antara golongan tua dan
golongan muda. Golongan muda memutuskan untuk mengamankan Soekarno dan Hatta ke
luar kota, yakni ke Rengasdengklok
sebelah timur Jakarta. Diungsikannya kedua tokoh ini leh golongan muda
bertujuan untuk menjauhkan mereka dari pengaruh Jepang.
Golongan muda tetap memaksa kepada Soekarno dan Hatta untuk melaksanakan proklamasi kemerdekaan tanpa campur tangan Jepang dan secepat mungkin dikumandangkan. Namun, usaha para golongan muda ini tidak berhasil. Kedua tokoh itu teap pada pendiriannya. Lalu, Shodanco Singgih yang berada di pihak golongan muda berbicara dengan Soekarno. Akhirnya Soekarno bersedia untuk memproklamasikan kemerdekan Indonesi dengan segera setelah kembali ke Jakarta. Berdasarkan pernyataan itu, Singgih segera kembali ke Jakarta untuk menyampaikan rencana proklamasi kepada kawan – kawannya.
Para tokoh lannya yang berada di Jakarta, yakni Ahmad Seobardjo yang mewakili golongan tua dan Wikana yang mewakili golongan pemuda, telah sepakat menentukan tempat dikumandangkannya proklamasi di Jakarta. Atas kesepakatan itu kemudian Jusuf Kunto (golongan muda) mengantar Ahmad Soebardjo bersama sekretaris pribadinya pergi menjemput Soekarno – Hatta. Pukul 17.30 WIB rombongan tiba di Jakarta dengan selamat.
Golongan muda tetap memaksa kepada Soekarno dan Hatta untuk melaksanakan proklamasi kemerdekaan tanpa campur tangan Jepang dan secepat mungkin dikumandangkan. Namun, usaha para golongan muda ini tidak berhasil. Kedua tokoh itu teap pada pendiriannya. Lalu, Shodanco Singgih yang berada di pihak golongan muda berbicara dengan Soekarno. Akhirnya Soekarno bersedia untuk memproklamasikan kemerdekan Indonesi dengan segera setelah kembali ke Jakarta. Berdasarkan pernyataan itu, Singgih segera kembali ke Jakarta untuk menyampaikan rencana proklamasi kepada kawan – kawannya.
Para tokoh lannya yang berada di Jakarta, yakni Ahmad Seobardjo yang mewakili golongan tua dan Wikana yang mewakili golongan pemuda, telah sepakat menentukan tempat dikumandangkannya proklamasi di Jakarta. Atas kesepakatan itu kemudian Jusuf Kunto (golongan muda) mengantar Ahmad Soebardjo bersama sekretaris pribadinya pergi menjemput Soekarno – Hatta. Pukul 17.30 WIB rombongan tiba di Jakarta dengan selamat.
B.
Penyusunan Teks Proklamasi
Sebelum
pembicaraan pembuatan naskah teks proklamasi dimulai, Soekarno Hatta telah
mengemui Mayor Jenderal Nishimura untuk meminta pendapat mengenai proklamasi kemerdekaan.
Mereka ditemani oleh Laksamana Tadashi Maeda. Singetada Nishijima, Tomegoro
Yoshizumi, dan Miyoshi sebagai penerjemah. Dalam pertemuan itu disepakati agar
pemerintah Jepang tidak menghalangi pelaksanaan proklamasi kemerdekaan yang
akan dilakukan oleh rakyat Indonesia.
Setelah pertemuan itu, Soekarno Hatta kembali ke rumah Laksamana Tadashi Maeda untuk menyusun naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Miyoshi sebagai orang kepercayaan Nishimura bersama tiga tokoh pemuda, yaitu Sukami, Soediro dan B.M Diah menyaksikan Soekarno, Moh Hatta dan Ahmad Soebardjo membahas perumusan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Menjelang subuh, naskah proklamasi yang masih berupa konsep yang ditulis oleh Soekarno dibacakan dan dibahas kembali. Soekarno yang mendapat dukungan dari Moh. Hatta menyarankan agar mereka bersama – sama menandatangani naskah proklamasi selaku wakil bangsa Indonesia. Saran Ir. Soekarno itu diperkuat oleh Drs. Moh Hatta dengan mengambil contoh Declaration Of Independent .
Setelah pertemuan itu, Soekarno Hatta kembali ke rumah Laksamana Tadashi Maeda untuk menyusun naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Miyoshi sebagai orang kepercayaan Nishimura bersama tiga tokoh pemuda, yaitu Sukami, Soediro dan B.M Diah menyaksikan Soekarno, Moh Hatta dan Ahmad Soebardjo membahas perumusan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Menjelang subuh, naskah proklamasi yang masih berupa konsep yang ditulis oleh Soekarno dibacakan dan dibahas kembali. Soekarno yang mendapat dukungan dari Moh. Hatta menyarankan agar mereka bersama – sama menandatangani naskah proklamasi selaku wakil bangsa Indonesia. Saran Ir. Soekarno itu diperkuat oleh Drs. Moh Hatta dengan mengambil contoh Declaration Of Independent .
Namun, golongan muda menentangnya. Sukarni
yang mewakili golongan muda mengusulkan agar yang menandatangani naskah
proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah Soekarno dan Hatta atas nama Bangsa Indonesia. Usul itu disetujui
oleh hadirin yang ada.
Kemudian Soekarno meminta kepada
Sayuti Melik untuk mengetik berita naskah itu berdasarkan naskah hasil tulisan
tanganya dengan perubahan yang telah disetujui.
Semula pembacaan teks proklamasi akan dibacakan di Lapangan Ikada (sekarang bagian tenggara lapangan Monumen Nasional) atas usulan Sukarni. Namun Soekarno khawatir akan terjadi bentrokan fisik antara rakyat Indonesia dengan tentara Jepang maka diputuskan bahwa pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dilaksanakan di rumah kediaman Soekarno, yakni jalan Pegangasaan Timur No. 56 Jakarta pada hari Jum’at tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 wib
Kemudian Soekarno meminta kepada
Sayuti Melik untuk mengetik berita naskah itu berdasarkan naskah hasil tulisan
tanganya dengan perubahan yang telah disetujui.Semula pembacaan teks proklamasi akan dibacakan di Lapangan Ikada (sekarang bagian tenggara lapangan Monumen Nasional) atas usulan Sukarni. Namun Soekarno khawatir akan terjadi bentrokan fisik antara rakyat Indonesia dengan tentara Jepang maka diputuskan bahwa pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dilaksanakan di rumah kediaman Soekarno, yakni jalan Pegangasaan Timur No. 56 Jakarta pada hari Jum’at tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 wib
C.
Detik – detik Proklamasi
Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 - 04.00 dini hari.
Teks proklamasi ditulis di ruang makan Laksamana Tadashi Maeda, JL. Imam Bonjol,
No. 1. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta,
dan Mr. Ahmad Soebarjo. Di ruang depan, hadir B.M. Diah, Sayuti Melik, Sukarni,
dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu
adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Teks
Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti Melik. Pagi harinya, 17 Agustus
1945, di kediaman Soekarno, JL. Pegangsaan Timur, No. 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti.
Acara dimulai pada
pukul 10.00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato
singkat tanpa teks. Kemudian pengibaran bendera Merah Putih, yang telah dijahit
oleh Ibu Fatmawati dan disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil wali kota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan
Pelopor.
Pada awalnya Trimurti diminta untuk menaikkan bendera namun ia menolak dengan alasan pengerekan
bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh sebab itu ditunjuklah Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed untuk tugas tersebut. Seorang pemudi muncul dari belakang membawa nampan
berisi bendera Merah Putih (Sang Saka Merah Putih) yang dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya. Setelah bendera berkibar, hadirin menyanyikan
lagu Indonesia
Raya. Sampai saat ini, bendera pusaka
tersebut masih disimpan di Istana
Merdeka.
Setelah upacara selesai berlangsung, kurang lebih 100 orang anggota Barisan Pelopor yang dipimpin S. Brata datang terburu-buru karena mereka tidak mengetahui
perubahan tempat mendadak dari Ikada ke Pegangsaan. Mereka menuntut Soekarno
mengulang pembacaan Proklamasi, namun ditolak. Akhirnya, Hatta memberikan
amanat singkat kepada mereka.
Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(PPKI) mengambil keputusan, mengesahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar
(UUD) sebagai dasar negara Republik Indonesia, yang selanjutnya dikenal sebagai
UUD 1945. Dengan
demikian terbentuklah Pemerintahan Negara Kesatuan Indonesia yang berbentuk
Republik (NKRI) dengan kedaulatan di tangan rakyat yang dilakukan sepenuhnya
oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akan dibentuk kemudian. Setelah
itu, Soekarno dan M.Hatta terpilih atas usul dari Oto Iskandardinata dan
persetujuan dari PPKI sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang pertama. Presiden dan wakil presiden akan dibantu
oleh sebuah Komite Nasional.
D. Penyebaran Proklamasi Kemerdekaan
Wilayah Indonesia sangatlah luas. Komunikasi dan
transportasi sekitar tahun 1945 masih
sangat terbatas. Di samping itu, hambatan dan larangan untuk menyebarkan berita
proklamasi oleh pasukan Jepang di Indonesia, merupakan sejumlah faktor yang
menyebabkan berita proklamasi mengalami keterlambatan di sejumlah daerah,
terutama di luar Jawa. Namun
dengan penuh tekad dan semangat berjuang, pada akhirnya peristiwa proklamasi
diketahui oleh segenap rakyat Indonesia.
Penyebaran proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 di
daerah Jakarta dapat
dilakukan secara cepat dan segera menyebar secara luas. Pada hari itu juga,
teks proklamasi telah sampai di tangan Kepala Bagian Radio dari Kantor Domei
(sekarang Kantor Berita ANTARA), Waidan B.
Palenewen. Ia menerima teks proklamasi dari seorang wartawan Domei yang bernama Syahruddin. Kemudian ia memerintahkan F.
Wuz (seorang markonis) supaya berita proklamasi disiarkan tiga kali
berturut-turut. Baru dua kali F. Wuz melaksanakan tugasnya, masuklah orang
Jepang ke ruangan radio sambil marah-marah, sebab mengetahui berita proklamasi telah tersiar ke
luar melalui udara.
Meskipun orang Jepang tersebut memerintahkan penghentian siaran berita
proklamasi, tetapi Waidan Palenewen tetap meminta F. Wuz untuk terus
menyiarkan. Berita proklamasi kemerdekaan diulangi setiap setengah jam sampai
pukul 16.00 saat siaran berhenti. Akibat dari penyiaran tersebut, pimpinan
tentara Jepang di Jawa memerintahkan untuk meralat berita dan menyatakan
sebagai kekeliruan. Pada tanggal 20 Agustus 1945 pemancar tersebut disegel oleh
Jepang dan para pegawainya dilarang masuk. Sekalipun pemancar pada kantor Domei
disegel, para pemuda bersama Jusuf Ronodipuro (seorang pembaca berita di Radio
Domei) ternyata membuat pemancar baru dengan bantuan teknisi radio, diantaranya
Sukarman, Sutamto, Susilahardja, dan Suhandar. Mereka mendirikan pemancar baru
di Menteng dengan kode panggilan DJK 1.
Dari sinilah selanjutnya berita proklamasi kemerdekaan disiarkan.
Usaha dan perjuangan para pemuda dalam penyebarluasan berita proklamasi
juga dilakukan melalui media pers dan surat selebaran. Hampir seluruh harian di
Jawa dalam penerbitannya tanggal 20
Agustus 1945 memuat berita proklamasi kemerdekaan dan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia. Harian Suara Asia di Surabaya merupakan koran
pertama yang memuat berita proklamasi. Beberapa tokoh pemuda yang berjuang
melalui media pers antara lain B.M. Diah, Sayuti Melik, dan Sumanang.
Proklamasi kemerdekaan juga disebarluaskan kepada rakyat Indonesia
melalui pemasangan plakat, poster, maupun coretan pada dinding tembok dan
gerbong kereta api, misalnya dengan slogan Respect Our Constitution, August
17!!! (Hormatilah Konstitusi Kami,
17 Agustus!!!). Melalui berbagai cara dan media tersebut,
akhirnya berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dapat tersebar luas di wilayah
Indonesia dan di luar negeri. Meskipun menggunakan banyak media dan alat
penyebaran. Sebelum tahun 2005, pihak Belanda sebagai penjajah Indonesia tak mengakui
Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 (de facto) melainkan tahun 1949
tanggal 27 Desember sebagaimana pengakuan PBB (de
jure) sebab mereka berpendapat bahwa pada tahun 1945, kekuasaan di
Indonesia diserahkan kepada Sekutu,
bukan dibebaskan oleh Jepang.
Di samping melalui media massa, berita proklamasi juga disebarkan secara
langsung oleh para utusan daerah yang menghadiri sidang PPKI. Berikut ini para
utusan PPKI yang ikut menyebarkan berita proklamasi :
- Teuku Mohammad Hassan dari Aceh.
- Sam Ratulangi dari Sulawesi.
- Ketut Pudja dari Sunda Kecil (Bali).
- A. A. Hamidan dari Kalimantan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Chaerul Saleh, Sutan Sjahrir, Darwis dan
Wikana telah
mengetahui menyerahnya Jepang tanpa syarat kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945, mereka mengetahui kekalahan Jepang
melalui siaran rasio BBC di Bandung. Setelah
itu, golongan muda mendesak golongan tua untuk secepatnya memproklamasikan
kemerdekaan Indonesia. Namun tokoh golongan tua seperti Ir. Soekarno
dan Drs. M. Hatta tidak mau terburu-buru mereka tetap menginginkan
proklamasi dilaksanakan sesuai mekanisme PPKI. Soekarno dan Hatta menemui Mayor
Jendral Nishimura untuk meminta pendapat mengenai proklamasi kemerdekaan. Dalam pertemuan itu disepakati agar
pemerintah Jepang tidak menghalangi pelaksanaan proklamasi kemerdekaan yang
akan dilakukan oleh rakyat Indonesia.
Menjelang subuh, naskah proklamasi
yang masih berupa konsep yang ditulis oleh Soekarno dibacakan dan dibahas
kembali. Sukarni mengusulkan agar yang
menandatangani naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah Soekarno dan Hatta atas nama Bangsa Indonesia. Usul itu disetujui
oleh hadirin yang ada. Kemudian Soekarno meminta Sayuti Melik untuk mengetik berita
naskah itu berdasarkan naskah hasil tulisan tanganya dengan perubahan yang
telah disetujui.
Acara proklamasi kemerdekaan dimulai pada pukul 10.00 dengan pembacaan
proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian
pengibaran bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh Ibu Fatmawati dan
disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil wali
kota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.
Usaha dan perjuangan para
pemuda dalam penyebarluasan berita proklamasi dilakukan melalui media pers dan
surat selebaran. Hampir seluruh harian di Jawa dalam
penerbitannya tanggal 20 Agustus 1945 memuat berita proklamasi kemerdekaan dan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Harian Suara Asia di Surabaya
merupakan koran pertama yang memuat berita proklamasi. Alhasil, berita
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dapat tersebar luas di wilayah Indonesia dan
di luar negeri.
B. Saran
·
Sebagai pelajar harus memiliki semangat juang yang
tinggi dalam menuntut ilmu.
·
Wajib menghargai dan menghormati jasa para pahlawan.
·
Meneladani sikap-sikap para pahlawan.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.kakapintar.com/sejarah-pembentukan-bpupki-dan-ppki/
Komentar